Monday, December 28, 2009

WAJIB TAHUN BARUAN?

"Benarkah esensi perubahan tahun baru terletak pada perayaannya dengan menghabiskan jutaan bahkan miliaran rupiah yang harus dikeluarkan? Apakah salah ketika perubahan tahun baru dimaknai hanya sebatas para perubahan deretan angka saja? Bukankah seharusnya ada makna yang lebih dalam saat momen tersebut, makna yang seharusnya tiap insan tidak terjebak pada sesuatu yang formalitas saja"






Tahun 2010 tinggal beberapa hari saja. Kalender yang terpajang didinding akan segera digantikan dengan pemandangan dan jajaran angka yang berbeda, dengan penangggalan yang berwarna merah, hitam yang tak lagi menempati tempat yang sama.

Sebelum tahun yang baru itu datang –pada malamnya- jutaan orang dari seluruh dunia merayakannya dengan cara dan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang menyuguhkan ribuan bahkan jutaan warna kembang api, ada pula yang menampilkan berbagai hiburan dan atraksi dalam berbagai bentuk. Semua seakan menikmati, menghayati, dan tidak ingin ketinggalan pada momen yang dianggap spesial tersebut. Jutaan orang keluar rumah demi merasakan nuansa malam perubahan tahun itu. Tanpa dikomando, tak ada yang menyuruh, tak seorangpun mewajibkan. Namun tiupan terompet dapat dengan mudah kita temui dijalan-jalan, alun-alun, pantai, bahkan dalam hotel sekalipun menandai perubahan angka pada penanggalan.

Tidak ada batasan usia untuk merayakan malam yang dianggap bersejarah tersebut. Pun jabatan, semua orang dari berbagai latar belakang suku, agama, ras terbuai dalam perayaan yang sama. Media menyuguhkan tayangan secara langsung bagi mereka yang tidak ada kesempatan keluar ruma, mulai dari tayangan film spesial sampai pada liputan perayaan secara langsung. Bisa dikatakan sulit untuk menemukan tempat yang tidak terpengaruh meomentum tahunan ini.

Tak terhitung berapa pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh berbagai instansi dan pemerintah sebuah negara untuk merayakan pergantian tahun itu. Tak terhitung juga kerja keras berbagai kelompok dan orang secara individu demi terwujudnya bentuk acara yang diinginkan, bahkan pasukan kuningpun ikut menuai dengan ikut bekerja keras pada esok harinya ketika perayaan telah usai.

Menurut hemat penulis, sepertinya ada sesuatu yang kita lupakan ketika itu. Momen perayaan pergantian tahun seakan terasa wajib untuk dilakukan, dan seakan kita akan merasa malu kalau kita tidak punya cerita yang bisa dibagi keesokan harinya. Sepertinya ada satu hal yang kita lupakan disini. Benarkah perayaan perubahan tahun ini harus dilakukan dan kita ikut terlibat didalamnya? Apakah bentuk kegembiraan dengan berbagai model kegiatan ini harus dilakukan bahkan terasa wajib?

R 4 B

0 comments:

Post a Comment

Twitter Facebook

 
Powered by Blogger