Kamu bisa saja membohongi siapapun, tapi kamu tak akan sanggup menipu hatimu sendiri. Jadilah hamba Allah yang sederhana, tanpa pura-pura. Besi tak akan berubah emas meskipun diwarnai berkali-kali.
#Imam Al-ghozali
Kamu bisa saja membohongi siapapun, tapi kamu tak akan sanggup menipu hatimu sendiri. Jadilah hamba Allah yang sederhana, tanpa pura-pura. Besi tak akan berubah emas meskipun diwarnai berkali-kali.
#Imam Al-ghozali
Anda pasti pernah merasa lelah bukan? Lelah yang dimaksud adalah lelah akan semuanya, lelah akan usaha yang sepertinya tak henti namun belum ada tanda itu sampai pada kata berhasil. Lelah telah berjuang mati-matian namun tak dihargai.
Pada saat seperti itu kadang terlintas untuk berhenti dan diam, bahkan pergi. Karena semuanya seakan sia-sia bukan. Semua energi, waktu, uang sepertinya telah maksimal tercurah, tapi yang didapat justru sebaliknya. Umpatan dan cacian hanya jadi pelipur sesaat.
Sebagai manusia kita boleh kan berkeluh kesah? berhenti sesaat kadang jadi bagian dari keluh kesah itu, bukan untuk lari atau berhenti selamanya. Berkeluh kesah disini hanyalah bentuk dari istirahat sementara saja, misalkan seorang yang sedang berlari, turun minum sembari atur nafas sebentar saja.
Lepas dari semuanya, mungkin ada satu hal yang kadang kita lupa meyakini, ada falsafah orang tua-tua dulu yang sebenarnya bisa ringankan semua. Kurang lebih seperti ini isinya, bahwa semua yang ada di dunia ini sudah ada yang mengatur. Kita hanyalah ciptaan yang tugasnya berusaha semaksimal mungkin, tapi hasil akhir bukan sepenuhnya kita yang menentukan. Bersikap pasrah setelah berjuang adalah pilihan terbaik dan menenangkan.
Dalam kehidupan, pada satu titik tertentu, mungkin saja perlu dipertimbangkan kenapa harus memelihara ingatan jika kita tak mampu menyimpannya.
Seperti kartu memori hp atau hardisk komputer, kenapa tidak membiarkan otak melupakan apapun yang ingin dilupakan. Jikapun otak tidak ingin melupakan sesuatu yang tidak ingin dikenang, berarti sesuatu itu memiliki makna, entah untuk apa, bisa jadi baru diketahui dikemudian hari.
Pernahkah anda mendengar kalimat ini "wah hebat sekali dia, atau wuih ini baru produk yang canggih". Sebuah kalimat pujian pada orang atau pada suatu barang.
Pernahkah kita mengamati pada hal-hal dibalik itu semua. Maksud saya yang kita lihat adalah hasil. Dan hasil adalah bentuk akhir dari sebuah proses, yang bisa jadi memakan waktu yang tidak sebentar. Dalam rentang waktu yang dimaksud pasti ada usaha dengan berbagai model dan jenisnya.
Sebuah usaha --bagian dari kata proses diatas-- pastilah berjibaku dengan letih, bosan, kerja keras, keuletan dan seterusnya. Hal inilah yang sering dilupakan oleh banyak orang. Ada mata rantai panjang yang harus dilalui, bukan bim salabim alias instan.
Untuk menjadi survive pada kondisi apapun pasti tidaklah mudah. Butuh perjuangan keras untuk itu. Harus selalu ada ruang evaluasi, pengamatan, pembelajaran, inovasi atas tiap perkembangan zaman.
Ketahuilah bahwa televisi hitam putih adalah produkk yang paling hebat pada zaman radio. Tapi saat televisi berwarna hadir, yang hitam putih menjadi sampah, digantikan televisi berwarna. Televisi LCD menjadi yang paling hebat pada zaman televisi tabung yang cenderung besar dan sangat tebal. Tapi televisi LCD menjadi sampah saat televisi LED mendominasi. Kemudian ternyata ada yang lebih hebat lagi yaitu televisi plasma. Akan seperti itu terus menerus dan tidak akan berhenti, karena zaman terus berkembang.
Begitu juga manusia, jangan merasa anda yang terhebat, paling kaya, paling jenius, dan seterusnya. Selama anda tidak berkembang dengan meng-upgrade kapasitas dan kemampuan anda, maka disitulah anda berhenti pada satu titik, menunggu tergusur oleh pengganti baru, dan anda menjadi sampah.