Wednesday, February 3, 2010

ANTARA RINDU DAN NAFSU

Mohon maaf kalau penulis kali menggunakan judul agak keras dan terkesan menghakimi pembaca semua. Sama sekali penulis tidak bermaksud seperti itu. Kali ini penulis ingin agar kita menggali lebih dalam lagi apa sebenarnya yang kita rasakan. Apakah yang kita rasakan betul-betul kemurnian dari kata rindu ataukah justru malah melenceng jauh dan merusak makna rindu itu sendiri.

Mungkin contoh dibawah ini akan lebih memudahkan kita dalam berfikir. Si Rudi setiap saat terbayang-bayang pacarnya, seperti dalam sebuah lagu dipakai tidur tidak nyenyak, makan tidak enak, dipakai apapun tidak terasa enak lagi, keinginan yang timbul hanyalah bersama pacarnya dalam kondisi apapun dan kapanpun. Meski setiap hari Rudi bertemu dengan pacarnya, selama apapun itu tetap terasa kurang. Bukan apa-apa yang didambakan, bukan sesuatu yang muluk-muluk semua kebutuhan seakan terpenuhi ketika bertemu dan bersama pacarnya.

Contoh yang kedua adalah si Kodim. Dia juga mengalami hal yang hampir sama dialami oleh Rudi. Setiap saat dia teringat akan pacarnya si Marni. Tak jauh berbeda dia juga merasakan hal yang sama dengan Rudi, tidak pernah dia bisa tidur nyenyak malah ia sering bermimpi bertemu pacarnya. Pada intinya dia juga terbayang-bayang terus dan ingin setiap saat bertemu dengan sang idaman hati. Tapi ada sedikit yang membedakan disini. Si budi tiap kali bertemu dengan pacarnya selalu dibumbui dan bahkan terasa wajib untuk mencium dan mencumbunya. Inilah yang sebetulnya tidak bisa ia lupakan pada pacarnya. Setiap saat ia terbayang akan kemolekan tubuh pacarnya dan ingin menikmatinya setiap saat, inilah yang membuat dia selalu tidak bisa menahan untuk tidak bertemu dengan si dia.

Dari kedua contoh diatas tergambar dengan jelas mana yang sebetulnya makna rindu dan kebutuhan akan penyaluran nafsu. Apakah memang rasa rindu harus dibumbui dan terasa wajib untuk bercumbu bahkan lebih jauh adalah seks? Apakah semurah itu harga dari kesucian cinta yang mengandung rindu, disitulah pembuktian dan makna cinta yang sepertinya sudah menggejala pada pemuda-pemudi generasi penerus bangsa ini. Alangkah naifnya kita.

Harus ada sebuah ruang bagi kita untuk sedikit menengok kembali makna cinta, rindu, kangen agar kita malah menodainya dengan nafsu sesaat. Karena kemurnian dari kata-kata di atas adalah abadi. Ketika kita mencederainya dengan mengatasnamakan ketulusannya justru disitulah kita telah merusak kesejatian makna. Semoga kita mampu untuk selalu belajar dan belajar.

1 comments:

naena said... Balas

Saya juga heran sekali dengna anak muda jaman sekarang yang merasa bangga kalau hamil dulu baru menikah, yang menjadi pertanyaan saya apakah sudah serendah wanita generasi kita sekang naif sekali kalua kita mau menokah harus hamil dulu ? betulkah jamannya sudah seperti itu, saya sangat sedih sekali

Post a Comment

Twitter Facebook

 
Powered by Blogger