Wednesday, February 24, 2010

ke-EGOIS-an KITA

Tanpa kita sadari, dan ini sering terjadi, kita menjadi egois di tengah komunitas kita berada. Komunitas yang saya maksud disini adalah tempat dimana kita biasa berkumpul, bercengkarama. Atau anak belia jaman sekarang mungkin menamakannya dengan teman se-gank. Disitulah biasanya kita berbagi apa saja, saling memberi, saling membantu, memberi perhatian, dan sebagainya. Yang saya maksud tanpa kita sadari adalah diri kita sendiri dalam memaknai komunitas serta hubungannya dengan kita secara pribadi.

Karena menjadi tempat kita mencurahkan bahkan mendapat sgala hal dari komunitas tersebut otomatis kita akan menjadi bagian darinya dan merasa ikut memiliki komunitas tersebut. Tidak ada yang salah dengan ini, setiap orang yang ada didalamnya punya hak yang sama dalam aspek ini. Semua yang terlibat dalam komunitas atau tempat kita berkumpul tersebut punya hak yang sama untuk ikut merasa memiliki komunitas tersebut. Meskipun tidak ada surat perjanjian ataupun seperti lembaga formal yang harus ada AD/ART, bisa jadi yang saya maksud komunitas disini adalah tempat kita biasa berkumpul seperti warkop ataupun pos kamling.

Sesuatu yang sering tidak kita sadari dan malah merugikan orang lain adalah besarnya rasa kepemilikan itu sendiri. Ketika kita merasa menjadi bagian dari komunitas tersebut, sekali lagi tanpa kita sadari kita menuntut lebih secara pribadi. Adakalanya saat kita butuh perhatian atau sedang ada persoalan kita ingin setiap orang yang ada dalam kemunitas tersebut ikut merasakan sedih dan larut serta berusaha keras agar persoalan yang kita hadapi juga menjadi persoalan dari tiap orang yang ada dalam komunitas tersebut.

Sementara tidak semua orang memahami apa yang sedang kita hadapi dan risaukan. Disinilah kita akan menjadi egois dengan memaksakan orang lain untuk mengerti diri kita dan terlibat menyelesaikan persoalan kita. Padahal belum tentu orang yang ada disekitar kita tidak punya persoalan yang mungkin saja jauh lebih besar dari apa yang sedang kita hadapi. Keegoisan yang muncul dari kemanusiawian kita jangan sampai merugikan orang lain. Karena setelah kita tahu bisa jadi kita akan merasa ternyata masih banyak orang lain yang persoalan dan apa yang dihadapi jauh dari apa yang kita hadapi hari ini. Dengan artian tidak hanya diri kita saja yang sedang ada persoalan, diluar sana masih banyak orang yang sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih parah dari kita namun mereka bisa tampil lebih tegar dari diri kita.

Manusia memang lebih mudah terjebak untuk menggunakan ego-nya daripada rasio-nya, karena ego memang datang tidak melalui kerja keras dan panjang, dia datang dengan sendirinya dan bahkan bisa dikatakan itu adalah bawaan sebagai manusia. Namun bukan berarti kita gampang terjebak olehnya, karena kita diberikan rasio serta rasa agar dalam melakukan segala hal menunjukkan kita adalah manusia. Bukan hewan yang diciptakan tanpa bekal itu semua. Semoga kita bisa lebih belajar dan selalu mawas.

3 comments:

bidansmart said... Balas

ego, rasio, mawas...mmhh...tiga kata ini yang tertanam di benak saya......
salam kenal....mampir ya ke tempat saya yang baru dibangun..

diya said... Balas

Kata orang-orang yang berada disekitar saya mengatakan saya orang yang egois.tapi sebenarnya saya orang yang sedikit tertutup.bagaimana solusinya?

ruang4belajar said... Balas

untuk diya : ada satu hal yang harus kita sadari dulu bahwa orang yang hidup di tengah banyak orang/kelompok/masyarakat/RT pada umumnya karena kebersamaan yang ada, mereka menganggap itulah yang wajar dan seharusnya dilakukan oleh setiap orang. Ketika ada orang yang lebih suka berdiam diri dan tidak bergumul dalam ruang mereka sementara orang tersebut ada disekitar mereka, orang itu dianggap BERBEDA.

Anggapan berbeda inilah kemudian yang memunculkan kata egois, mau hidup sendiri, kolot, dll. Tetapi menurut pendapat pribadi saya, sebetulnya tidak ada yang salah dengan ini. Egois bagi saya adalah ketika kita tidak peduli akan apa yang menimpa orang lain, Jiwa sosial yang telah ada dalam diri kita tidak bereaksi sama sekali. Ini tidak sama dengan orang yang tertutup. Tipe orang seperti diya yang mengkategorikan dirinya ini, adalah tipe orang yang tidak biasanya tidak suka akan keramain, dengan artian berbagi cerita dengan banyak/beberapa orang. Orang dengan tipe seperti ini menurut hemat saya belumlah tentu egois atau denga bahasa lain tidak peduli sama sekali.

Butuh saat dan kondisi tertentu untuk orang dengan tipe tertutup menyesuaikan dengan orang lain, namun yang perlu ditekankan bahwa ini tidaklah salah. Sekali lagi egois dan tertutup itu berbeda. Demikian diya, semoga bermanfaat.

Post a Comment

Twitter Facebook

 
Powered by Blogger