Sudah agak lama saya tidak melakukan posting untuk blog saya yang satu ini. Ada sesuatu yang sebetulnya mengganggu pikiran saya saat sudah begitu lama tidak mampir ketempat saya merenung ini. Seperti ada sesuatu yang hilang dati saya sebetulnya Karena tikak juga mampir di ruang kecil ini. Adakah ini rindu ataukah justru batin saya dilanda akan kehilangan akan sesuatu yang sampai saat ini saya tak mampu juga menamainya apa.
Sempat terpikir untuk menghapus saja ruang ini, atau tidak usah dihapus tapi tidak usah diurus pasti dengan sendirinya akan mati pula ruang ini. Tapi kenapa perasaan yang tidak saya ketahui namanya itu kerapkali muncul mengganggu sanubari saya. Aahhh….. entahlah saya piker, daripada susah-susah mencari tahu nama atau juga malah memberi nama lebih baik tidak usah diurus saja. Barangkali memang saya tak mampu meninggalkanmu duhai ruang kecil.
Saya terlebih dulu memohon maaf sebelum saya bercerita lebih lanjut. Cerita saya ini tidak bermaksud apa-apa apalagi mengajak anda yang membaca tulisan saya ini untuk terlibat. Saya ingin bercerita tentang merokok, namun sekali lagi saya tidak bermaksud untuk mengajak pembaca untuk sama dengan saya. Cerita ini saya maksudkan untuk mempelajari makna yang terkandung di balik itu, bukan pada merokoknya. Sekali lagi saya meminta maaf sedalam-dalamnya.
Ketika saya masih duduk dibangku sekolah dasar, saat itu kehidupan ekonomi keluarga saya rasakan sedang sulit. Bapak tidak mendapatkan hasil yang lebih dari kerjaannya sedangkan emak saya tidak bekerja. Hal ini berakibat pada tidak terpenuhinya kebutuhan di luar kebutuhan wajib, lha wong untuk makan saja kadang orang tua saya ngutang sana sini jangan sampai membayangkan untuk yang lain.
Pada saat seperti ini bapak masih juga sering kali ketika mempunyai uang yang juga sangat terbatas kadang meminta saya untuk membelikan beliau rokok satu batang di toko, kadang malah saya disuruh menghutang. Saat rokok sudah di tangan bapak saya begitu menikmati rokok yang hanya sebatang itu. Kini ketika telah dewasa dan saya menjadi penghisap rokok pula saya baru bisa merasakan begitu kehilangannya saya ketika butuh teman rokok tetapi kita tidak mempunyai uang sepeserpun untuk membelinya. Saya juga bingung akan menggambarkan perasaan ini seperti apa.
Namun yang saya pahami adalah sesuatu yang meski kecil ketika memberi manfaat yang besar janganlah diremehkan apalagi kita menafikannya. Kita akan merasakan adanya saat kita tidak lagi bersamanya, apalagi sesuatu itu memberi makna besar dalam hidup kita. Anda saja kita dengan mudah meraih yang kita mau dan mimpi-mimpi kita, mungkin kita akan selalu bahagia tapi bisa jadi malah sebaliknya kita akan merasa hidup tidak ada seninya karena sama sekali grafik kehidupan kita tidak berubah dan bergeser sedikitpun.


0 comments:
Post a Comment