Tuesday, February 22, 2011

LOGIKA DASAR CINTA (Bagian II-akhir)

Karena ada beberapa sahabat yang mempertanyakan akhir dari hasil menguping saya pada posting sebelumnya yang berjudul LOGIKA DASAR CINTA, maka disini saya akan melanjutkan pembahasannya. Mohon maaf karena memang ada beberapa dialog yang belum sempat saya sampaikan, sehingga kesannya kenapa kok ditinggalin ngupingnya padahal sahabat-sahabat yang telah berkunjung mulai menghayati ceritanya. Bagi anda yang belum mengerti ceritanya silahkan mampir kepostingan saya sebelumnya yang berjudul LOGIKA DASAR CINTA.

Sang cowok tertegun mendengar pertanyaan si cewek yang rupanya telah membuatnya gelisah. Ceweknya yang kuliah pada sebuah kampus ternama di Surabaya bisa jadi telah berubah dibanding disaat awal dia mengenalnya. Ketika itu sang cewek masih duduk di kelas XI sebuah SMA favorit di Sidoarjo. Pertama kali mengenalnya mungkin saja sang cowok menyimpulkan bahwa ceweknya adalah seorang cewek yang biasa saja. Sama seperti cewek SMA pada umumnya, mereka akan cukup bahagia dengan perhatian dan bukti cinta tulus yang ia berikan. Tanpa ada tuntutan akan alasan sebuah cinta.

Namun kini ceweknya telah berubah, si cewek adalah Mahasiswi pada sebuah Kampus ternama dengan jurusan yang dipilih dengan dasar pertimbangan serius. Yang dalam hal apapun membutuhkan logika atau dasar penting akan sebuah pilihan dengan segala konsekwensinya. Dalam bahasa lain ceweknya telah menjelma menjadi seorang cewek yang dewasa dalam berfikir dan mempertimbangkan sesuatu.

Lama sang cowok tertegun, dan tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya. Mereka berdua cuma terdiam dalam pikirannya masing-masing. Tiba-tiba saja sang cowok berkata “Begini sayangku, maaf kalau selama ini aku kurang memikirkan persoalan ini. Karena selama ini aku menganggap bahwa cintaku cukup aku buktikan dengan segala sesuatu yang aku yakin kamu telah merasakannya. Aku tidak menyadari bahwa ada bukti atau alasan lain yang lebih kuat dan kamu inginkan sebagai dasar cintaku” sang cowok terdiam sejenak sambil menelan ludahnya dalam-dalam.

Terus gimana sayang? Aku sayang sama kamu, tapi seperti yang kukatakan sebelumnya. Bagiku kata cinta saja tidaklah cukup. Aku ingin kamu punya alasan rasional dalam mencintaiku. Kita hidup dalam dunia yang rasional, untuk menghadapi ini kita harus bersikap rasional juga agar kita tidak terlindas dalam cinta cengeng ciptaan sinetron kekinian yang bagiku cuma berisi sampah dan pembodohan.” Ucap si cewek yang mulai mempertegas permintaannya.

Jujur saja, sampai detik ini aku tidak menemukan alasan yang menurutku paling tepat dalam mencintaimu sayangku. Kamu cantik, smart, perhatian, pengertian, dan semuanya. I love everything about you honey. Tapi dari sekian alasan yang kusebutkan tadi, aku tak menemukan satupun alasan yang paling tepat, paling rasional dalam mencintaimu. Sampai kadang aku tertuju pada satu kesmpulan, tidak rasionalkah cintaku padamu sayang?” Perkataan sang cowok mulai sedikit memelas.

Itulah sebenarnya akhir dari sebuah dialog yang saya dengarkan atau kuping di pinggir jalan siang itu. Semoga bermanfaat dan tidak menambah beban kita dalam menjalin sebuah hubungan.


3 comments:

BeBek said... Balas

menurut syacinta itu memang tidak bisa dilogikakan..
Kalo bisa, mungkin tidak akan ada istilah "Cinta itu buta"
hehehe,,,

Ajeng Sari Rahayu said... Balas

haha, cinta dan kepastiannya ...

NOOR'S said... Balas

Hmmm...cinta memang sulit dimengerti :)

Kunjungan balik, salam kenal juga

Post a Comment

Twitter Facebook

 
Powered by Blogger