Ini adalah cerita tentang almarhum kakek istriku. Karenanya saya menyebutnya dengan kakekku.
Kakekku ini saya juga tidak tahu berapa pasti umurnya. Semua anak dan menantunya saat saya tanya tidak tahu berapa umur kakek. Karena mereka lupa tahun berapa kakek lahir, saat masih hidup beliau juga tidak tahu persis tahun berapa lahirnya.
Saat aku menikah yang saya tahu kakek sudah lumpuh, saat kekamar mandi beliau merangkak sendiri. Memprihatinkan kalau dicermati kondisinya, bisa juga disebut kasihan.
Tapi tunggu dulu jangan terburu-buru mengasihani kakek. Beliau tidak butuh itu, kekamar mandipun beliau tidak mau dibantu. Karena kakek merasa masih mampu lakukan sendiri, tanpa merepotkan yang lain. Padahal saat saya telah menikah, istriku bilang beliau lumpuh sejak istri masih SMP. Artinya kakek sudah jalani hidup seperti itu puluhan tahun.
Anda bisa bayangkan, kakek tidak bisa keluar kemana-mana. Rutinitasnya hanya dari ruang tamu yg diberi alas kasur dan kamar mandi, yang jaraknya hanya sekitar 7 Meter. Beliau juga tidak mengerti teknologi, tidak tahu cara pakai handphone apalagi akses internet dan game berbasis android. Artinya teknologi tidak bisa jadi alternatif hiburan pengusir jenuh dan sepi.
Apakah beliau merasa kesepian dan jenuh? Entahlah, tapi yang saya tahu kakek setiap hari tak pernah luput sholat 5 waktu. Itupun masih rutin ditambah sholat dhuha dan tahajud, ditambah sholat-sholat sunnah yang lain. Hampir tiap ketemu beliau, kesan yang saya tangkap kakek terlihat selalu riang gembira. Beliau selalu optimis melihat hidup. Yakin bahwa semua atas kehendak Tuhan, dan Tuhan lah yang paling tahu apa yang terbaik bagi tiap hamba-Nya.
Tiap ketemu saya selalu dinasehati jangan lupa ibadah. "Memuji Tuhanmu ribuan kali tiap hari adalah bentuk dari rasa syukurmu. Apakah kamu bisa lakukan itu, padahal gak butuh waktu seharian, sementara untuk ngobrol dan nongkrong dalam waktu seharian pun kamu kuat", begitu kata kakek suatu waktu.
Melihat optimisme dan pasrahnya pada Tuhannya, membuat saya kadang merasa diingatkan. Bahwa nikmat Tuhan itu takkan mampu kita hitung, bahwa untuk sekedar ucap syukur saja saya sering lupa.
Ditengah sangat banyak keterbatasan yang menimpa pada kakek saya, dan berlangsung puluhan tahun pula. Beliau masih selalu tersenyum memandang hidup, selalu bersyukur masih dapat banyak waktu untuk beribadah dan bertobat.
Terima Kasih Kakek


0 comments:
Post a Comment