Tak terasa kita sudah mendekati Hari Raya Idul Fitri. Hari kemenangan bagi umat Islam, hari dimana ketika orang yang lulus dalam melaksanakan ibadah puasa dia akan suci kembali seperti bayi yang baru dilahirkan. Tanpa dosa, tanpa cela, begitu bersih dan agungnya hari itu. Seluruh umat Islam bergembira menyambut datangnya hari tersebut. Meski kadang kegembiraan itu keluar dari esensinya. Banyak orang disibukkan dengan tampilan baru, mulai dari baju, celana, sarung, kopiah, sampai kebiasaan baru yaitu memberi uang kepada saudara-saudaranya.
Dengan mudah kita akan menemukan perubahan-perubahan itu, lihatlah di jalan-jalan raya begitu penuhnya dengan lautan manusia yang hilir mudik mencari bahan untuk merayakan Idul Fitri. Semua toko dan swalayan dipenuhi manusia yang sedang berbelanja. Kita juga akan dengan mudah menemukan orang-orang yang menjajakan uang baru di pinggir jalan. Pentingkah semua itu dalam perayaan Hari Raya Idul Fitri? Adakah itu berhubungan langsung esensi hari tersebut Semoga itu tidak akan membuat apa yang kita lakukan selama satu bulan berpuasa sia-sia.
Ketika puasa kita diharuskan menahan lapar dan dahaga sampai waktu berbuka puasa tiba. Dari mulai makan sahur sebelum subuh sampai saat adzan magrib. Diluar itu kita juga diharuskan menahan hawa nafsu kemanusiaan kita. Mulai dari nafsu amarah yang bagi sebagian orang adalah sesuatu yang sering tidak sadar terjadi sampai nafsu birahi yang tidak mengenal waktu dan tempat datangnya. Alangkah indahnya jika itu tidak hanya terjadi dalam masa satu bulan saja di bulan Ramadhan.
Jika saja itu bisa kita lakukan dan temui di luar bulan itu maka mungkin kita akan merasa damai pada bulan-bulan yang lain. Tidak ada orang yang mudah marah, sulit menemukan orang kikir dan sebagainya. Antara manusia satu dengan manusia yang lain pasti lebih banyak saling menghormati dan tidak saling melukai. Maka tidak akan terjadi perang, penghianatan, pembohongan publik bahkan korupsi, tentu semua orang akan lebih takut melakukan hal-hal yang buruk.
Mungkin pembaca sekalian berpikir saya bodoh atau gila bahkan ingin mengingkari suratan Tuhan dengan pengandaian ini. Karena mungkin juga terpikir di benak anda semua bahwa mana mungkin dunia ini akan menjadi seperti syurga yang tidak ada perbuatan buruk di dalamnya. Namun sekali lagi ini adalah pengandaian saya pribadi, dan semoga tidak menganggu ketentraman kehidupan kita.
R 4 B
Monday, September 14, 2009
CUMA BERANDAI SAJA
Posted by ahmadfauzi on 8:18 AM


0 comments:
Post a Comment