Sunday, December 27, 2009

MENYELESAIKAN PERSOALAN

Tadi malam saya sedang berkumpul santai di warkop dengan teman-teman di alun-alun sidoarjo, ada perbincangan yang sedikit menggugah dan ingin saya tuliskan disini. Seorang teman saya bernama andik (nama samaran), menceritakan bagaimana dia sedang susah payah dengan kerjaan dan kuliahnya yang semakin hari semakin membuatnya kalang kabut. Dia merasa semakin repot dengan berbagai urusannya. Disibukkan dengan keharusan untuk mencari uang untuk membayar uang kuliahnya setiap bulan, pada sisi lain dia juga disibukkan dengan urusan pribadinya yang terasa tidak ada habisnya.

Mulai dari urusan perempuan yang selama ini dia merasa tidak ada yang pernah tapat dan mengerti perasaannya, sampai pada keharusan membayar cicilan sepeda motornya yang belum juga habis dan dia mulai bosan untuk membayar. Seperti biasa segala persoalan seperti tidak ada habisnya dia ceritakan kepada kami (teman-temannya). Semua yang ikut dalam kumpul di warkop malm tadi hanya mendengarkan dia bercerita sambil sesekali memberi pendapat dan saran agar dia tidak putus asa dan senantiasa menatap masa depan dengan cara pandang yang berbeda.

Lepas dari cerita yang tidak bisa saya ceritakan runtut di atas tanpa kita sadari sepertinya gejala seperti ini sering kita rasakan dan lakukan dalam kehidupan kita. Setiap manusia tak bisa lepas dari yang namanya persoalan, tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang hidup tanpa persoalan. Menurut saya itu tergantung bagaimana cara kita menyikapi dan memandang persoalan tersebut.

Ketika kita ada persoalan, sesuatu yang cenderung ingin kita lakukan adalah berbagi dengan menceritakan pada orang lain agar sedikit bisa mengurangi beban kita. Ada juga yang menyikapinya dengan mengeluarkan air mata, karena kata orang air mata itu juga bisa sedikit mengurangi beban yang ada, meski sebenarnya bukan berarti persoalan akan selesai sampai disini dengan cara ini.

Yang menjadi catatan disini, persoalan terkadang menjadi beban ketika itu tidak kita selesaikan. Pertanyaan yang kemudian timbul adalah dengan cara apa kita menyelesaikan persoalan tersebut, atau minimal bagaimana kita menyikapi persoalan tersebut. Mungkinkah ketika ada persoalan semuanya kita ceritakan pada orang lain? Apakah dengan memposisikan orang akhirnya terpaksa untuk mendengarkan segala persoalan kita dan akhirnya membahasnya kita berada pada posisi orang yang egois yang sedang menganggap hanya dirinya saja yang sedang dilanda persoalan besar dan orang lain tidak.
Semoga saja persoalan yang sedang kita alami tidak malah menjadi beban bagi orang lain dan tidak menjadikan kita sebagai orang yang egois, semoga.

R 4 B

0 comments:

Post a Comment

Twitter Facebook

 
Powered by Blogger