Seorang teman lama datang kepada saya pada suatu ketika. Dia ingin mengobrol panjang karena kami memang sudah lama sekali tidak bertemu dan berbincang mengenai apa saja. Ada nada serius dalam ucapannya, seperti ada sesuatu yang lebih penting dari sekedar bertemu untuk ngobrol dan membahas sesuatu. Bahkan pertemuan tersebut seakan memaksa untuk saya setujui ditengah aktivitas saya yang sebenarnya juga menyita banyak waktu. Karena saya juga ingin bertemu dan berbincang dengan dia maka sayapun menyetujuinya, sambil refreshing pikir saya.
Ternyata memang pertemuan tersebut tidak seindah yang saya bayangkan sebelumnya. Tidak ada senyuman pertanda gembira ketika dia datang, apalagi tegur sapa hangat sebagai tanda kami memang sahabat lama yang tidak pernah bersua. Wajahnya kelihatan kusut, penampilannya tidak seperti ketika kita sering bersama dulu, rona kesedihan seperti menggelayut bagai mendung yang tak ingin lepas sebelum air tertumpahkan.
“Aku hancur friend“, cuma tiga kata itu yang keluar dari bibirnya. Saya terdiam tak tahu harus bilang apa. Saya biarkan dia duduk menangis dihadapan saya, untuk sekedar membuat bebannya terkurangi. Agak lama dia terduduk terisak, sesenggukan karena tak bisa menangis dengan keras sebab kami memang sedang berada ditengah banyak orang. Dari caranya menangis saya merasakan ada beban yang begitu besar yang dipundaknya, sehingga tanggul pribadi yang tercermin kuat dari pribadinya bisa jebol dan meluap. Persoalan apa yang sedang dihadapi sahabat baik saya ini sehingga mampu menjatuhkan ketegaran dan kemandiriannya dulu.
Hampir tujuh menit dia tenggelam dalam lirih tangisannya, cukup lama untuk sahabat yang di mata saya dan teman-teman kami adalah pribadi yang sangat kuat dan tegar dalam menghadapi apa saja. “Mas Bambang telah pergi meninggalkan kita satu bulan lalu”, dia mengawali ceritanya. Bambang yang dia maksud adalah calon suaminya, lelaki tersebut merupakan sosok yang menaklukkan sahabat baik saya ini ketika puluhan laki-laki datang kepadanya dengan berbagai impian menjulang serta fasilitas hidup yang ditawarkan padahal Bambang ini kebalikan dari mereka yang datang.
“Aku merasa hancur sekarang tom, salah satu tiang utama dalam kehidupanku seperti hilang. Begitu banyak kenangan bersama mas Bambang yang tidak mungkin aku lupakan. Akhir-akhir ini aku merasa sangat tersiksa dengan keadaanku ini. Aku ingin bertemu mas Bambang dan bersandar dibahunya, menatap wajahnya, menikmati senyumannya, aku…..aku….”, kembali air matanya menetes.
Saya dapat merasakan keinginan yang begitu besar dan kuat yang tidak akan mampu tergantikan oleh apapun. Kata-kata itu terasa tuntutan bagi saya, sebuah keinginan yang mampu membuat bibir saya seperti tak mengenal satu hurufpun. Tak ada yang keluar dari mulutku selain hembusan nafas panjang. Inikah makna rindu yang sebenarnya? Yang mampu runtuhkan segalanya, sebuah kerinduan yang barangkali bisa disebut tulus. Ataukah ini adalah bentuk dari siksaan rasa?


1 comments:
waduuhhh
Post a Comment