Apa sebenarnya yang membuat manusia merasa puas dan cukup dalam hidupnya. Tercapainya cita-cita disertai gelimang harta beserta teraihnya cinta yang dianggap sejati, toh tidak membuat manusia berhenti karena telah merasa cukup dan selesai. Adakah menusia yang terbebas dari persoalan hidup yang membelitnya, tidak seorangpun saya yakin. Mengetahui hal tersebut tidak seharusnya juga membuat kita meremehkan persoalan dan tidak menganggapnya ada dan tidak mencoba menyelesaikannya dan malah lari dari persoalan tersebut.
Ada seorang teman saya yang sedang terbelit persoalan besar dan seakan dia tak sanggup lagi menghadapi, dia menarik nafas panjang sembari tersenyum dan berkata “aku orep lahir mudho, saiki wis iso suwalan ambek mangan wis untung (saya dilahirkan telanjang, sekarang bisa memakai celana pendek dan makan sudah beruntung)”, saya terhenyak mendengar kalimat tersebut. Betapa sangat dalam kalimat tersebut meski diucapkan dengan balutan senyum getir.
Melihat sekitar saya yang begitu banyak persoalan yang membalut manusia dengan segala keluh kesah yang dihadapi, saya seperti baru saja disiram air yang begitu dingin yang mampu menyadarkan tidur panjang saya. Dari sekian banyak persoalan yang sebetulnya sering menghinggapi kita, terdapat pula banyak cara yang diberikan oleh Tuhan dalam menghadapainya atau minimal sesuatu yang bisa sedikit menentramkan kita meski persoalan seperti sudah penuh dan menyesakkan dada serta sampai menyumbat rongga pernafasan kita.
Dari itulah merenung dan merefleksikan apa yang kita alami dan lalui sepanjang hari ini atau bahkan sepanjang hidup kita ternyata sangat penting. Diluar itu jangan hanya berhenti pada mengamati dan merefleksi diri, tetapi sekeliling kita juga harus kita perhatikan dengan seksama. Bahwa hidup tidak untuk diri sendiri, ada Tuhan, ada manusia lain di sekitar kita, ada makhluk lain yang juga hidup berdampingan dengan kita. Mungkin yang seharusnya kita ingat adalah jadilah manusia yang selalu mawas dan ingat bahwa kita cuma sekedar makhluk Tuhan yang tidak hidup sendirian dan bisa hidup sendiri.


2 comments:
[...] This post was mentioned on Twitter by ahmad fauzi. ahmad fauzi said: INGATLAH, KITA DILAHIRKAN TELANJANG: http://wp.me/pD9d7-1I [...]
andai semua orang dapat berlapang dada seperti komentar sahabat anda di atas.
Post a Comment