Kita begitu mudah terjebak pada ego kita sendiri. Sering, bahkan tiap kali sisi ego kita menuntut semua orang mau mengerti kondisi dan posisi kita. Kondisi ini datang hampir tanpa kita sadari sama sekali. Saat kita masih mempertanyakan kenapa si A berbuat semaunya dan merugikan diri kita, atau kenapa si B hanya melihat kekurangan kita, maka disinilah berarti ego kita sedang menguasai. Tidak bisa tidak, meski kita menyangkalnya ribuan kali, semakin kita menyangkal maka semakin ego menguasai diri kita.
Adakah yang salah dengan kondisi di atas? Saat kita lebih menyalahkan orang lain yang tidak mau memahami diri kita? Tidak ada yang salah dengan itu, karena Tuhan juga menciptakan ego yang menjadi salah satu karunia kita dalam hidup. Setiap orang dikaruniai ego, persoalannya adalah ketika ego setiap orang mendominasi maka tidak ada yang akan menang dan kalah, semuanya rugi karena semua lebih banyak menuntut daripada memberi. Alangkah indahnya kehidupan jika dalam dada setiap orang pertanyaan yang pertama kali muncul adalah : apa saja yang telah saya lakukan hari ini,adakah yang telah merugikan orang lain? Adakah saya menyakiti orang lain hari ini? Saya tidak mau disakiti maka saya tidak akan menyakiti orang lain? Saya ingin selalu dimengerti maka saya akan berusaha mengerti orang lain terlebih dahulu.
Diluar itu semua yang tidak boleh kita lupakan bahwa segala sesuatu diciptakan dengan aturan main yang telah ditetapkan oleh sang Maha Pencipta. Bisa dikatakan Tuhan juga menciptakan hukum yang berlaku bagi semuanya. Ada pahala, ada juga siksa. Ada karunia ada pula malapetaka. Kembali pada soal ego, yang berhubungan dengan hukum diatas adalah ketika kita lebih banyak menuntut orang lain maka yang kita dapat adalah tuntutan. Saat kita merasa orang tidak memahami kita maka selama ini kita kurang memahami orang lain. “Jangan selalu menuntut, tapi berbuatlah maka kamu akan mendapatkan buah atas apa yang engkau lakukan“
Ego adalah ciptaan Tuhan yang ditanamkan dalam diri kita bukan tanpa maksud dan tujuan. Tuhan juga menciptakan perimbangan dari ego itu sendiri. Ketika salah satunya mendominasi maka yang lainnya harus mengimbangi. Perimbangan dari ego menurut penulis adalah instrospeksi. Kita harus lebih banyak instrospeksi/evaluasi diri kalau kita ingin mendapatkan hal yang sama dari orang lain. Semoga yang sedikit ini bermanfaat.


3 comments:
Saya setuju bahwa untuk mengimbangi ego, kita harus banyak mengintropeksi diri.
Alhamdulilah apa yang ada ditulisan ini membuat kita sadar akan ego kita, yang selama ini tidak disadari disetiap masing-masing dalam diri manusia. semoga yang membaca tulisan ini akan lebih menilai tindakan serta perbuatan yang dilakukan sehari-hari. Amien....
bgos//
Post a Comment