Malam ini saat aku nongkrong di alun-alun Sidoarjo, aku bertemu dengan seorang anak kecil kira-kira berumur 5 tahun yang sedang mengemis. Keasikan makan malamku disebuah warung tenda terusik oleh kehadirannya yang tiba-tiba menadahkan tangan sambil memelas berucap “sedekahnya mas…”. Menggaggu selera orang makan saja pikirku, dengan sedikit kesal kubiarkan dia. Namun dia tidak juga pergi, tetap dengan sabar menungguku. Akhirnya kupersilahkan dia duduk dan kupesankan makan, bukan karena aku kasihan namun karena aku sedang malas merogoh saku karena tanganku sedang sibuk diatas piring.
Makanan telah tersaji di depan pengemis kecil tersebut. Akan tetapi dia tidak langsung melahapnya meski dari raut mukanya aku bisa menebak dia belum makan dalam rentang waktu yang lebih lama dariku. Mulutnya komat kamit sebentar. “Minta apa kamu dalam do’a tadi pada Tuhan”, tanyaku yang masih dengan nada kesal. Dengan enteng dia menjawab “Saya minta pada Tuhan semoga besok bertemu dengan mas lagi, hehe….”. Dengan tidak melihat wajahnya aku bertanya lagi “lho kenapa tidak minta sama Tuhan supaya setiap hari bertemu aku dan kutraktir makan”.
Pengemis kecil tersebut terdiam sejenak, sambil mengeluarkan nafas panjang dia menjawab “wah kalau minta seperti itu serakah namanya mas, sudah untung Tuhan kasih saya keberuntungan ketemu dengan mas hari ini, masak mau minta tiap hari, nanti Tuhan malah marah. Saya juga tidak jadi keliling nanti cuma diam tanpa berusaha dan cuma menunggu mas saja. Malah malas kan saya nanti,hehe…”
***
Sesampai dirumah aku jadi teringat ucapan pengemis kecil tadi. Aku pikir ada benarnya juga. Memang Tuhan tidak pernah memberi batasan kita dalam meminta. Namun kita juga tidak boleh meminta semau kita, karena belum tentu apa yang akan kita minta adalah yang terbaik buat kita. Bisa jadi apa yang kita minta adalah sesuatu yang sebetulnya punya efek buruk bagi kita sendiri. Yang apabila dikabulkan malah akan membuat kita berubah menjadi orang yang tidak lebih baik dari sebelum kita memintanya pada Tuhan. Kenapa kita tidak menyerahkan saja semuanya kepada Tuhan karena Dia-lah yang paling mengerti apa yang terbaik buat diri kita sebagai makhluk ciptaan-Nya.
Hikmah dibalik kisah ini :
- Syukuri apa yang telah kita punyai, jangan serakah dengan tidak mensyukurinya karena masih terus meminta banyak hal kepada Tuhan.
- Yakini saja Tuhanlah yang paling mengetahui apa yang terbaik buat kita
Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp.



11 comments:
Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.C.B
Artikel anda akan segera di catat.
Link diatas agar di perbaiki, arahkan ke tempat anda mendaftar :
http://newblogcamp.com/kontes/kontes-unggulan-cermin-berhikmah
agar dapat diikuti oleh Juri.
Salam hangat dari Markas New BlogCamp di Surabaya
Ceritanya keren.... Bahkan kita dapat mengambil pelajaran meski hanya dari seorang pengemis sekalipun. Mantap..!
Ikutan kontes ya..? Semoga menang deh. Artikelnya bagus sekali.
Bagus... semoga menang..!
Kasihan... anak sekecil itu jadi pengemis.
iya coba ikut kontes,untuk memompa semangat biar lebih giat dalam update saja. Terima kasih atas dukungan dan support para sahabat,semoga ruang putih ini mampu menjadi tempat berbagi.
tambah sip ae.................
hidup ini ibarat roda yg akan terus berputar.sabar dan syukur insyaALLAH bisa jd penolong dalam mengarungi kehidupan..
artikel ini bagus,bisa mengingatkan org2 yg kurang peduli thd mereka yg tdk mampu utk memberikan sdkt rezekinya
Saya pun belajar mengeja syukur...
bener mas, mereka yang hidup serba pas2an dapat menikmati rasa syukur kenapa kita yang diberikan sedikit linuwih malah terkadang abai
astaghfirullah
alun" sidoarjo :D
Post a Comment