Saturday, February 5, 2011

Ruang Khusus “Cinta”

“Dia egois, tak pernah mau mengerti apa yang aku mau. Tak pernah mau memahami apa sebenarnya yang bisa membahagiakan aku”, ucap Rina sambil matanya menerawang jauh seakan pandangannya tertuju pada sesuatu yang bisa menjawab. Mendengar keluh kesah itu seperti biasanya pula andik hanya menarik nafas dalam-dalam sambil mengucapkan tiga kata saja “Sabar saja Rin”.

Karena hapal dengan jawaban sahabatnya, Rina tidak merespon apa-apa. Dia tetap pada pandangannya yang menerawang entah kemana. Dalam tatapan mata kosongnya mungkin saja dia sedang menumpahkan keluh kesahnya pada ruang kosong yang sebetulnya dia sendiri tahu itu tidak menyelesaikan persoalan apalagi mengurangi bebannya. Namun bagi Rina setidaknya ada ruang lain baginya untuk menumpahkan segalanya. Ruang yang tak pernah menolak, mengkritik, apalagi menghujat. Ruang itu hanya menerima dan selalu rela.

“Menurutmu pantaskah hubungan yang seperti ini dilanjutkan andik? Apa gunanya sebuah hubungan dalam ikatan pacaran tanpa ada ruh kebahagiaan didalamnya. Ketika ruh kebahagiaan itu tidak ada untuk apa ikatan itu dibangun apalagi didasari sebuah komitmen?” tanya Rina lagi pada sahabat curhatnya. Mendengar beberapa pertanyaan bernada protes tersebut andik malah terdiam beberapa saat sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Hampir setiap hari Rina mencurahkan isi hatinya pada andik, tapi setiap hari pula andik lebih banyak diam, hanya beberapa kata yang meluncur dari bibirnya. Seakan bibirnya lebih sibuk menikmati teman setianya yaitu rokok daripada mengeluarkan jawaban-jawaban atas curahan hati Rina. 

Lama keduanya terdiam dalam dunianya masing-masing. Kedua orang yang bersahabat itu memang duduk berhadapan, tapi hati dan pikiran mereka sibuk dalam tempat yang berbeda, seakan hanya fisik mereka berdua saja yang berhadapan. 

“Begini saja Rina” andik mulai memecah kesunyian yang beberapa saat menguasai mereka berdua. “Setiap hari ada saja yang menjadi persoalan yang menurut kamu sangat mengganggu dalam hubunganmu dengan pacarmu itu, setiap hari pula kamu membaginya dengan aku. Maafkan aku yang sangat sulit berpendapat dan memberikan saran, karena persoalan cinta bagiku juga bukan persoalan yang mudah. Hari ini kuberanikan diri memeberikan sebuah saran kepadamu”. Andik terdiam sejenak sambil menghisap dalam-dalam rokoknya.

Setelah melemparkan sisa rokoknya ke jalan dihadapannya andik kembali bicara. “Bagiku cinta merupakan zat yang menempati ruang khusus dalam hati manusia, bersama rindu, benci, cemburu, dan rasa sayang. Kusebut ruang khusus karena rasa sayang kepada orang lain yang buka dalam artian cinta itu mempunyai makna yang berbeda dan bagiku menempati ruang yang berbeda pula. Agar ruang khusus itu menjadi khusus hanya ditempati cinta maka bersihkanlah ia dari berbagai macam rasa yang mengganggu keberadaan cinta seperti cemburu, benci dan semacamnya. Bersihkanlah ruang itu dari penyebab-penyebab yang menciptakan rasa pengganggu cinta hadir didalamnya. Termasuk apabila pacarmu kamu anggap menyebabkan rusaknya kemurnian cinta yang ada dalam ruang khusus itu maka kamu juga harus menyingkirkannya”, andik menutup kalimatnya dengan menyalakan batang rokoknya yang kesekian kalinya.

2 comments:

na maku ti gakata said... Balas

kunjungan balik
nice blog gan.. :)

DSK said... Balas

jawaban andik tepat sekali, sedikit tapi dalam banget ....

Post a Comment

Twitter Facebook

 
Powered by Blogger