"Ada secuil rindu dalam roti ini", katamu pada malam itu. Kalimatmu datar tanpa tekanan dan tanpa ekspresi khusus diwajahmu. Engkau katakan itu sembari memotong-motong kue itu jadi beberapa bagian menggunakan garpu.
Entah apa yang kau maksud, aku masih tak mengerti hingga kini. Meski selama bebrapa hari kurenungkan kalimat itu, masih tak kutemukan juga apa arti kalimatmu malam itu. Bagiku jalan hidupmu terlalu susah untuk ketemukan hubungan antara rindu pada secuil roti itu dengan kisah cintamu. Karena makin aku mengenalmu, makin tak kutemui dimana cintamu.
Yang kutahu hanyalah roti itu sebagai makanan favoritmu kala singgah pada beberapa cafe dengan menu yang sama. Kukatakan favorit karena kau selalu memesan roti yang sama. Tapi yang membuatku heran kau pasti akan sisakan secuil. Saat aku tawarkan untuk melahap bagian terakhir itu kau mesti melarangku.
"Please jangan kau hilangkan sisa rindu yang kujaga meski cuma dalam secuil roti itu", pintamu kala itu. Ahh...kadang aku benci mendengar kalimat itu. Bagiku itu kalimat yang tak jelas dan terlalu misterius. Kamu seperti seorang seniman saja, kalimatmu penuh makna tapi susah untuk kupahami maksudnya.
Siapa sebenarnya yang kau rindukan. Apakah dia adalah temanku sehingga kau tak pernah mau critakan, ataukah justru aku tak mengenalnya dan engkau pun tak ingin mengenalkan dia padaku. Capek rasanya menebak-nebak.
Tapi pertemuan kita malam tadi mungkin saja jadi jawaban pasti,meski masih juga belum sepenuhnya aku pahami. Malam ini kau pesan roti yang sama. Tapi terakhir kau sisakan dua potong. Ketika aku tanya kenapa, kau menjawab sambil menarik nafas panjang. "Yang secuil untuk kerinduan akan masa kecilku, yang secuil lagi kerinduan akan maut yang tiap saat mengintaiku".


0 comments:
Post a Comment