Friday, January 1, 2010

GUS DUR dan PERAYAAN TAHUN BARU 2010

Hari ini Jum’at kita memasuki awal tahun 2010. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, tadi malam tepat pada detik-detik akhir pergantian tahun tersebut semua manusia dibelahan duani sibuk merayakannya dengan berbagai macam acara. Namun dominasi diantara semuanya adalah adanya kembang api yang disulut diberbagai tempat dan sudut-sudut keramaian. Semua bergembira, menikmati pergantian angka perubahan tahun yang sebetulnya terjadi setiap tahun, bahkan bisa dikatakan sesuatu yang alamiah dan semua orang pasti mengalaminya.

Di Indonesia sendiri tahun ini ada sedikit perbedaan sebetulnya. Bangsa ini dikejutkan dengan meninggalnya seorang Bapak Bangsa yang bernama KH. Abdurrahman Wahid pada tanggal 31 Desember 2009 pukul 18.45 di RS. Cipto Mangunkusumo Jakarta, atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Gus Dur. Tidak perlu saya jelaskan disini siapa dan apa aktivitas dan posisi beliau di Negeri ini, semua orang cukup paham dan tahu siapa beliau.

Dengan meninggalnya Presiden ke-4 Indonesia tersebut, Presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mengibarkan bendera setengah tiang sebagai bentuk duka yang mendalam atas meninggalnya Gus Dur.

Serta menghimbau agar perayaan tahun baru kali ini dirayakan dengan khidmat dan mengurangi pesta besar-besaran. Karena itu kemudian acara panggung musik besar di Jakarta dibatalkan dan diganti dengan acara dzikir bersama untuk Almarhum Gus Dur. Mungkin kita akan sedikit terkejut saat menyaksikan berita perayaan tahun baru di televisi pada hari ini. Memang panggung hiburan di berbagai tempat banyak diganti dengan acara dzikir atau do’a bersama. Namun antusiasme masyarakat dalam menyambut perubahan tahun ini rupanya tidak berubah sama sekali. Ini dapat kita lihat bagaimana masih ramainya jalan raya tadi malam.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah masyarakat sudah melupakan begitu saja apa yang baru saja terjadi. Tidak bisakah kita sedikit menunda untuk kali ini saja kita tidak turun dan memadati jalan-jalan dalam rangka perayaan tahun baru. Toh pada tahun yang akan datang kita akan bertemu lagi dengan pergantian tahun tersebut. Ini untuk menghormati duka yang seharusnya bisa kita rasakan dan sedikit menggugah kesadaran kita.

Ternyata kesadaran masyarakat di negeri ini bisa dikatakan masih lemah. Tadi malam kita akan dengan mudah menemukan raungan motor di jalan-jalan beserta percikan kembang api yang seakan semuanya menikmati dan disitulah makna pergantian tahun yang tidak boleh dirubah oleh apapun. Meski sebenarnya satu hal yang harus kita pahami bahwa pergantian tahun baru dengan model perayaan seperti ini tidak merubah apapun dan tidak membawa keuntungan dalam bentuk apapun. Malah akan menghabiskan banyak biaya yang sebetulnya bisa kita alokasikan untuk kegiatan lain yang lebih positif. Andai saja dana perayaan tahun baru dengan segala pernak-perniknya kita peruntukkan untuk memperbaiki pendidikan di negeri ini, mungkin perayaan tahun baru akan lebih bermakna bagi bangsa dan masa dengan generasi penerus kita. Kita sering terjebak pada sesuatu yang sebetulnya bukan esensi tapi kita jadikan yang utama. Maafkan kami Gus Dur....

R 4 B

3 comments:

Qims Training Centre » Qims Forum: Integrating Marketing Into System said... Balas

[...] GUS DUR dan PERAYAAN TAHUN BARU 2010 « Ruang Belajar Bersama [...]

rozie said... Balas

i like it

rozie said... Balas

selamat jalan Gus Dur

Post a Comment

Twitter Facebook

 
Powered by Blogger